Dinasti Bani Abbasiyah

A.    Sejarah Dinasti Abbasyiah


Kekhalifahan Abbasyiah adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan Tsadisi keilmuan Yunani dan Persia (Riyadi,2014).

Abu al-Abbas as-Saffah (750-754M) adalah pendiri dinasti Abbasyiah. Nama aslinya Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn al-Abbas. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104H. Dia dilantik menjadi khalifah pada tanggal 3 Rabbiulawwal 132H. Kekuasaan dinasti Abbasyiah berlangsung dari tahun 750-1258M. Akan tetapi karena kekuasaannya sangat singkat, Abu Ja’far al-Mansur (754-775M) yang banyak berjasa dalam membangun pemerintahan dinasti Abbasyiah. Pada tahun 762M, Abu Ja’far al-Mansur memindahkan ibu kota Damaskus ke Hasyimiyah, kemudian dipindahkan lagi ke Baghdad. Oleh karena itu, ibu kota pemerintahan dinasti Abbasyiah berada di tengah-tengah bangsa Persia (Maryamah,2015).

Disebut dalam sejarah bahwa berdirinya bani Abbasyiah, menjelang berakhirnya bani Umayyah, terjadi bermacam-macam kekacauan yang antara lain disebabkan (Sunanto,2003:47) :

1.Penindasan yang terus menerus terhadap pengikut Ali dan bani Hasyim pada umumnya.

2.Merendahkan kaum Muslimin yang bukan Bangsa Arab sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan.

3.Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara terang-terangan.

Oleh karena itu, logis kalau bani Hasyim mencari jalan keluar dengan mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan dinasti Umayyah. Gerakan ini menghimpun: a.keturunan Ali dipimpin oleh Abu Salamah b.keturunan Abbas dipimpin oleh Ibrahim al-Iman c.keturunan bangsa Persia dipimpin oleh Abu Muslim al-Khusaran. Mereka memusatkan kegiatannya di Khusaran. Dengan usaha ini, maka tumbanglah dinasti Umayyah dengan terbunuhnya Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir pada tahun 132H/750M (Maryamah,2015).

B     Pola Pemerintahan Dinasti Abbasyiah

Pemerintahan dinasti Abbasyiah bisa dilihat dari berbagai aspek dimulai dengan berpindah ibu kota ke Baghdad, pemerintah bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab. Sedangkan dinasti Umayyah sangat berorientasi kepada Arab (Irfani,2016).

Pola Pemerintahan yang diterapkan selama dinasti Abbasyiah ini berkuasa berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan da politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Abbasyiah menjadi lima periode (Irfani, 2016) :

a.     Periode pertama (132H/750M – 232H/847M), disebut dengan priode pengaruh Persia pertama.

b.     Periode kedua (232H/847M – 334H/945M), disebut masa pengaruh Turki pertama.

c.     Periode ketiga (334H/945M – 447H/1055M), disebut masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasyiah. Priode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.

d.     Periode keempat (447H/1055M – 590H/1194M), disebut masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan Abbasyiah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.

e.     Periode kelima (590H/1194M – 656H/1258M), disebut masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanyaa efektif disekitar kota Baghdad.

Penggunaan sistem pemerintahan yang sudah ada dan modifikasi akan mempermudah pelaksanaan dan mempercepat pergerakan pemerintahan untuk lebih maju. Abu Ja’far al-Mansur pada awal peletakan dasar-dasar sistem pemerintahan dinasti Abbasyiah berpegang pada ajaran Islam. Dengan mengambil hukum kepada al-Qur’an dan menganggap dirinya sebagai Sulthanullah di muka bumi (Al-Asy,2007:42).

Dinasti Abbasyiah banyak mewarisi berbagai tradisi, praktek, keahlian dan bahkan personil administrasi Umayyah dengan beberapa modifikasi (Lewis, 1994: 80). Untuk mengurus suatu daerah dinasti ini memberi kesempatan besar kepada penduduk setempat tanpa diskriminasi sosial dan eksklusifisme. Bersamaan itu terjadi perubahan yang paling drastis yang terjadi dalam kalangan Muslim, yaitu penghilangan supremasi kasta dan menerapkan prinsip universal di kalangan Muslim. Menghilangkan anakronisme bangsa Arab dalam militer dan menjadikan sebagian besar Muslim sebagai pendukung Abbasyiah (Lapidus, 1999: 107).

Pada masa dinasti Abbasyiah memperoleh hak yang sama dengan orang-orang Arab dalam berpolitik. Dengan demikian pada amasa Abbasyiah hak asasi manusia telah mengalami kemajuan dibandingkan pada masa sebelumnya, tanpa membedakan keturunan dan kasta seluruh bangsa terlibat bersama-sama dalam pengelolaan negara (Glasse, 1993: 3).

Dibawah kekuasaan khalifah al-Mahdi (158-169H/775-785M) dan Harun al-Rasyid (170-173H/786-809M) keluarga ini mempunyai pengaruh besar, namun tidak menguasai seluruh pemerintahan, karena khalifah senantiasa mengontrol dan membatasi keluarga mereka (Lapidus, 1999: 110).

Biarpun demikian Abassyiah akan menyerang dan mealrang kelompok-kelompok yang berindikasi politik, seperti ingin menggulingkan kekuasaan Abbasyiah. Untuk mempertahankan diri dari kemungkinan pemberontakan dalam negeri dan gangguan dari luar maka dinasti Abbasyiah mengambil tindakan tegas dan selalu mawas terhadap segala macam anacaman, terutama keturunan Umayyah. Banyak diantara pimpinan dan keturunan Umayyah yang terpaksa keluar dari wilayah Abbasyiah dan lari ke Andalusia dan Afrika dikarenakan mendapat tekanan dari Abbasyiah (Hasan, 1995: 263). 

C.    Ekspansi Wilayah Yang Dilakukan Oleh Dinasti Abbasyiah

Sejak upaya penerjemahan meluas dan sekaligus sebagai hasil kebangkitan ilmu pengetahuan, banyak kaum muslimin mulai mempelajari ilmu-ilmu itu langsung dalam bahasa arab sehingga muncul sarjana-sarjana muslim yang turut mempelajarinya, mengomentari, membetulkan buku-buku penerjemahan atau memperbaiki atas kekeliruan pemahaman kesalahan pada masa lampau, dan menciptakan pendapat atau ide baru, serta memperluas penyelidikan ilmiah untuk mengungkap rahasia alam, yang dimulai dengan mencari manuskrip-manuskrip klasik peninggalan ilmuan Yunani kuno, seperti karya Aristoteles, Plato, Socrates, dan sebagainya. Manuskrip-manuskrip tersebut kemudian dibawa ke Baghdad lalu diterjemahkan dan dipelajari di perpustakaan yang merangkap sebagai lembaga penelitian al-Baitul Hikmah, sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran baru (Nunzairina,2020).

Sejak akhir abad ke-10 muncul sejumlah tokoh wanita dibidang ketatanegaraan dan politik seperti, Khaizura, Ullayah, Zubaidah, dan Bahrun. Di bidang kesusasteraan dikenal Zubaidah dan Fasl. Di bidang Sejarah, para ahli para ahli sejarah arab mulai menyelidiki sejarah mereka sendiri, baik beberapa peninggalan yang sudah kabur, maupun hanya merupakan penggalan cerita, ataupun yang sudah tertulis dalam bentuk yang sudah disetujui dan cenderung buah daripada sekte keagamaan yang bermacam-macam. Penulisan dan penyusunan sejarah dalam ukuran besar di dorong oleh paradigm orang-orang Persia (Hasan, 1989:135). 

D.    Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Abbasyiah

Kebangkitan ilmiah pada zaman ini terbagi di dalam tiga lapangan, yaitu: kegiatan menyusun buku-buku ilmiah, mengatur ilmu-ilmu islam dan penerjemahan dari bahasa asing (Hasan, 1989:58).

Setelah mencapai kemenangan di medan perang, tokoh-tokoh tentara membukakan jalan kepada anggota-anggota pemerintahan, keuangan, undang-undang dan berbagai ilmu pengetahuan untuk bergiat di lapamgan masing-masing. Dengan demikian munculah pada zaman itu sekelompok penyair-penyair handalan, filosof-filosof, ahli-ahli sejarah, ahli-ahli ilmu hisab, tokoh-tokoh agama dan pujangga pujangga yang memperkaya perbendaharaan bahasa arab (Syalabi:186).

Adapun bentuk-bentuk peradaban Islam pada masa daulah Bani Abbasiyah adalah sebagai berikut :

a.     Kota-kota Pusat Peradaban

Di antara kota pusat peradaban pada masa dinasti Abbasiyah adalah Baghdad dan Samarra. Ke kota inilah para ahli ilmu pengetahuan datang beramai-ramai untuk belajar (Murodi,2007:18).

b.     Bidang Pemerintahan

Dalam pembagian wilayah (propinsi), pemerintahan Bani Abbasiyah menamakannya dengan Imaraat, gubernurnya bergelar Amir/Hakim. Imaraat saat itu ada tiga macam, yaitu  Imaraat Al-Istikhfa, Al-Amaarah Al-Khassah dan Imaraat Al-Istilau. Kepada wilayah/imaraat ini diberi hak-hak otonomi terbatas, sedangkan desa/al-qura dengan kepala desanya as-Syaikh al-Qoryah diberi otonomi penuh (Umam:82).

c.     Bangunan Tempat Peribadatan dan Pendidikan

Madrasah yang terkenal saat itu adalah Madrasah Nizamiyah, yang didirikan di Baghdad, Isfahan, Nisabur, Basrah, Tabaristan, Hara dan Musol. Selain madrasah, terdapat juga Kuttab, sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah, ,Majlis Muhadhoroh sebagai tempat pertemuan dan diskusi para ilmuan, serta Darul Hikmah sebagai perpustakaan (Murodi,2007:51).

d.     Bidang Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu naqli dan ilmu aqli. Ilmu naqli terdiri dari Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ilmu fiqih, Ilmu Kalam, Ilmu Tasawuf dan Ilmu Bahasa. Adapun Ilmu Aqli seperti : Ilmu kedokteran, Ilmu Perbintangan, Ilmu Kimia, Ilmu Pasti, Logika, Filsafat dan Geografi (Murodi,2007:96).

Lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:

1.     Maktab/Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa.

2.     Tingkat pendalaman, dimana para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing.

Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat di tentukan oleh perkembangan bahasa Arab. baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Kemajuan tersebut paling tidak ditentukan oleh dua hal,yaitu (Yatim,2008) :

1. Terjadinya Asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non-arab banyak yang masuk islam.

2.         Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan mantiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak di terjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas, Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.

Daftar Pustaka

Badri Yatim M.A, Sejarah peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2008.

F Irfani. “Http://Ejournal.Uika-Bogor.Ac.Id/Index.Php/FIKRAH/Article/View/216.” Fikrah, 2016.

H. Fuad Riyadi. “Perpustakaan Bayth Al-Hikmah ‘The Golden Age of Islam.’” Jurnal Perpustakaan Libraria Vol.2 (June 2014): no.1.

Maryamah. “Pendidikan Islam Masa Dinasti Abbasyiah.” Tadrib Vol.1 (June 1, 2015): no.1.

Murodi, Dr.MA, Sejarah Kebudayaan Islam Tsanawiyah Kelas IX, Karya Toha Putra, 2007.

Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik. Cet.1, hal. 47. Bogor: Prenada Media, 2003.

Nunzairina. “Dinasti Abbasiyah: Kemajuan Peradaban Islam, Pendidikan dan Kebangkitan Kaum Intelektual” Jurnal Sejarah Peradaban Islam vol.3,(Januari, 2020): No.2.

Syalabi, Prof, Dr, Sejarah dan Kebudayaan 3, Alhusna Zikra.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

UAS ILMU MANTIQ : JURNAL 2

Sejarah Peradaban Islam 2 (UAS) : Kerajaan Islam Zaman Penjajahan Belanda

Sejarah Peradaban Islam 2 (UAS) : Wali Songo dan Islam di Indonesia