Dinasti Bani Umayyah

A.               A.             Sejarah Berdirinya Bani Umayyah

 


Di akhir masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, umat Islam mulai bergejolak dan muncul menjadi tiga kekuatan politik yang dominan kala itu, yaitu Syiah, Muawiyah, dan Khawarij. Keadaan ini mengakibatkan posisi Ali semakin lemah, sementara posisi Muawiyah semakin kuat. Dan pada tahun 40 H (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij.Setelah Ali bin Abi Thalib meninggal, kedudukannya sebagai khalifah dijabat oleh anaknya, Hasan. Namun karena penduduk Kufah tidak mendukungnya, seperti sikap mereka terhadap Ayahnya, maka Hasan semakin lemah, sementara Muawiyah semakin kuat. Maka Hasan mengadakan perjanjian damai dengan Muawiyah dengan menanggalkan jabatan khilafah untuk Muawiyah pada tahun 41 H (661 M), agar tidak terjadi pertumpahan darah yang sia-sia. Perjanjian tersebut dapat mempersatukan umat Islam dalam satu kepemimpinan politik, yakni di bawah kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan. Tahun tersebut dalam sejarah dikenal sebagai tahun al-Jama'ah (tahun persatuan), sebagai tanda bahwa umat Islam telah menyepakati secara aklamasi mempunyai hanya satu orang khalifah. Di sisi lain penyerahan tersebut menjadikan Muawiyah sebagai penguasa absolut dalam Islam. Dengan demikian, maka berakhirlah apa yang disebut dengan masa Khulafa' al-Rasyidin yang bersifat demokratis, dan dimulailah kekuasaan Bani Umayah dalam sejarah politik Islam yang bersifat keturunan. Bani Umayyah atau Kekhalifahan Umayyah, adalah kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya; serta dari 756 sampai 1031 di Kordoba, Spanyol (Mas’ud,2014).

B.             Pola Pemerintahan Bani Umayyah

Mu’awiyah dalam membangun pemerintahannya menjalankan sistem khalifah. Akan tetapi sistem khalifah pada masa dinasti Umayyah sangat jauh berbeda dengan pemerintahan masa Khulafa’ al-Rasyidun, dimana sistem khalifah tidak lagi didasari asas musyawarah dan bai’at tetapi telah beralih ke pemerintahan monarki. Mulai dari Abu Bakar hingga kepada Ali bin Abi Thalib disebut dengan periode khilafah rasyidah dan para khalifahnya disebut Khulafa’ al-Rasyidun (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk). Ciri yang paling menonjol dari masa ini adalah bahwa khalifah benar-benar meneladani sikap dan perilaku nabi Muhammad saw. Namun, setelah masa ini pemerintahan Islam justru berbentuk kerajaan. Kekuasaan diwariskan secara turun-temurun. Sedangkan para penguasa dinasti Umayyah dalam memerintah seringkali bertindak otoriter (Yatim,2003:42).

 

C.             Ekspansi Wilayah Bani Umayyah

Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa dinasti Umayyah ini sangat luas. Daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia kecil, Persia, Afganistan daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek dan Kirgis di Asia Tengah (Nasution,1985:62)


D.             Peradaban Islam Masa Bani Umayyah

Mu‟awiyah tidak memberi kesempatan bernapas dan tidak kenal kompromi terhadap siapa saja yang menentang kekuasaannya, tidak peduli apakah tantangan itu  datang  dari  orang-orang  Islam  atau  bukan-Islam. Ia bahkan dapat  bekerja dengan  bantuan  orang-orang yang  bukan Islam,  selama  orang-orang  itu  tidak menentang kekuasaannya. Mu‟awiyah  ibn   Abi   Sufyan   melepaskan   tahta kerajaannya, lalu ia digantikan oleh putranya yang bernama Yazid bin Mu‟awiyah. Masa pemerintahan Yazid bin Mu‟awiyah tidak ada kemajuan yang berarti di wi-layah front Asia  Tengah. Kemajuan  yang  ditampakkan Yazid hanya  dengan mengangkat kembali Uqbah bin Nafi‟ di al-Maghrib yang membawa Islam ke tepi Samudra  Atlantik  dan  dikalangan  suku-suku  Berber  di  sub  Sahara,  tidak  ada keberhasilan  yang  istimewa  meskipun  terkenal  sebagai  panglima  yang  popular (Said,2007:328).

 Kemajuan  bani  Umayyah  baru  dimulai  pada  pemerintahan Khalifah yang ke-5 yaitu Abdul Malik. Dia dianggap sebagai pendiri Daulah Bani Umayyah  kedua,  karena  mampu  mencegah  disintegrasi  yang  telah  terjadi  sejak masa  Marwan. Abdul  Malik  sebagai  seorang  ahli  tatanegara  dan  administrator ulung, diaberhasil  menyempurnakan  administrasi  pemerintahan  bani  Umayyah. Masa penggantinya, Walid I, merupakan  periode kemenangan, kemakmuran dan kejayaan.  Negara  Islam  meluas  ke   daerah   Barat   dan  Timur,  beban  hidup masyarakat  mulai  ringan,  pembangunan  kota dan  pendirian  gedung-gedung umum seperti Masjid dan perkantoran mendapat perhatian yang cukup serius (Maryam,2004:63).

 Kejayaan bani Umayyah berakhir pada masa pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz  (Umar  II)  yang  merupakan  khalifah  terpelajar  dan  taat  beragama.  Dia  juga merupakan  pelopor  penyebaran  agama  Islam. Sejarawan-sejarawanmengatakan bahwa  pemerintahannya  termasyhur,seperti  halnya  pemerintahan orthodox yaitu pemerintahan   Abu   Bakar   dan   Umarbin   Khattab. Pemerintahannya   hanya bertahan  selama  2  tahun  5  bulan. Kekhalifahan  mulai  melemah  dan  akhirnya hancursepeninggal   kekuasaan   Umar   II.   Para   pengganti   Umar   II   selalu mengorbankan   kepentingan   umum   untuk   kesenangan   pribadi.20Pengganti selanjutnya, Yazid II tidak melakukan ekspansi atau penyebaran Islam di kawasan Asia Tengah yang berarti. Penggantinya Hisyam Bin Abd  al-Malik mulai memiliki semangat baru, ia menguasai  kembali  daerah-daerah  yang  hilang  sebelumnya,21tetapidibidang pemerintahan ia sangat lemah (Maryam,2004:70).

 Para pengganti Hisyam (Walid II, Yazid III, dan Ibrahim)tidak ada  kemajuan  baik  dalam  ekspansi  maupun  dalam  penyebaran Islam  di Asia   Tengah.  Khalifah   XIV  dari  Dinasti  Umayyah (Marwan  II) mempertahankan  Sayyar  tetap  menjadi  penguasa  di  Khurasan. Umayyah  sudah diambang  pintu  kehancuran,  maka  usaha  Nasar  bin  Sayyar  yang  menerapkan pembayaran  pajak  secara merata,  baik  bagi  muslim  Arab,  Mawali,  maupun  non-Muslim dengan angka atau jumlah yang sama tidak berhasil. Sejarah juga mencatat bahwa peradaban Islam pada masa Dinasti Umayyah mengalami    kemajuan    dalam    hal pembangunan    gedung-gedung,    seperti pembangunan kota, istana, Masjid, pemukiman, dan taman-taman. Pembangunan yang terlihat megah  adalah  Masjid  Cordova, Kota  al-Zahra, Istana Ja‟fariyah di Saragosa,  Tembok  Toledo,  Istana  al-Makmun,  Masjid  Seville,  dan  Istana  al-Hamra di Granada (Shaban,1993:206).

 Daftar Pustaka

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, (Cet. XIV; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003), h. 42.

Harun Nasution. Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1985), p. 62. Jakarta: UI Press, 1985.

M. A Shaban. M.A  Shaban, Sejarah  Islam:  Penafsiran  baru  600-750(Jakarta:  Raja  Grafindo Persada, 1993), hlm.206. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993.

Maryam, Siti. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: LESFI, 2004.

Said, Ali Ahmad. Ali  Ahmad  Said, Arkeologi  Sejarah:  Pemikiran  Arab-Islam,ed.  Fuad  Mustafid (Yogyakarta: LkiS: 2007), hlm. 328. Yogyakarta: lkis, 2007.

Sulthon Mas’ud. “Sejarah Peradaban Islam.” Universitas  Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Tarbayah Dan Keguruan Surabaya, 2014.

 

 

 

 

 

 

 

 

             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

UAS ILMU MANTIQ : JURNAL 2

Sejarah Peradaban Islam 2 (UAS) : Kerajaan Islam Zaman Penjajahan Belanda

Sejarah Peradaban Islam 2 (UAS) : Wali Songo dan Islam di Indonesia