Sejarah Peradaban Islam 2 (UAS) : Islam di Indonesia : Zaman Modern dan Kontemporer

 Islam di Indonesia : Zaman Modern dan Kontemporer 

A.    Gerakan Modern Islam : Asal Usul Dan Perkembangan

Pembaharuan dalam islam atau gerakan modern islam merupakan jawaban yang ditunjukan terhadap krisis yang dihadapi umat islam pada masanya. Kemunduran progresif kerajaan usmani yang merupakan pemangku khilafah islam, setelah abad ke 17, telah melahirkan kebangkitan islam dikalangan warga arab dipinggiran imperium itu. Yang terpenting diantaranya adalah gerakan wahabi, sebuah gerakan reformis furitanis (salafiyyah).Gerakan ini merupakan sarana yang menyiapakan jembatan kearah pembaharuan islam kea bad ke 20 yang lebih bersifat intelektual.

Katalisator terkenal gerakan pembaharuan ini adalah Jamaluddin al afghani(1897). Dia mengajarkan solidariatas Pan Islam dan pertahan terhadap imperialism eropa, dengan kembali kepada islam dalam suasana yang secara ilmiah dimodernisasi.

Gerakan lahir di timur tengah itu memberikan pengaruh besar kepada gerakan kebangkitan islam di Indonesia. Bermula dari pembaharuan pemikiran dan pendidikan islam di Minangkabau yang disusul oleh pembaruan pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat arab di Indonesia, kebangkitan islam semakin berkembang membentuk organisasi-organisasi sosial keagamaan, seperti sarekat dagang islam di bogor dan solo, persyarikatan islam di majalengka, jawa barat,muhamadiyah di Yogyakarta,persatuan islam di bandung, Nahdlatul ulama di Surabaya, dan persatuan tarbiyah islamiyah di candung, bukittinggi: dan partaipartai politik,seperti sarikat islam yang merupakan kelanjutan dari SDI, persatuan muslimin Indonesia di padang panjang yang merupakan kelanjutan dan perluasan dari organisasi pendidikan thawalib, dan partai islam Indonesia pada tahun 1938.

Sementara itu, hamper pada waktu yang bersamaan, pemerintah penjajahan menjalankan politik etis, politik balas budi. Belanda mendirikan sekolah-sekolah formal bagi bumi putra, terutama dari kalangan priyayi dan kaum bangsawan. Pendidikan belanda tersebut membuka mata kaum bangsawan.pendidikan belanda tersebut membuka mata kaum terpelajar akan kondisi masyarakat Indonesia. Pengetahuan meraka akan kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan mayarakat Indonesia, pada saatnya mendorong lahirnya organisasi-organisasi sosial, seperti budi utomo, taman siswa, jong java, jong sumatranen bond, jong ambon, jong selebes dan lain sebagainya.[1]

ERA MODERN

Masa pembaharuan (modem) bagi dunia Islam adalah masa yang dimulai dan tahun 1800 M sampai sekarang. Masa pembaharuan ditandai dengan adanya kesadaran umat Islam terhadap kelemahan dirinya dan adanya dorongan untuk memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dimasa ini banyak perkembangan dalam kehidupan Islam, melputi pendidikan, politik, perdagangan dan kebudayaan.

Menjelang dan pada awal-awal masa pembaharuan, umat Islam di berbagai negara, telah menyimpang dari ajaran Islam yang bersumber kepada al-qur'an dan Hadis. Penyimpangan itu terdapat dalam hal :

· Ajaran Islam tentang ketauhidan telah bercampur dengan kemusyrikan. Hal ini ditandai dengan banyaknya umat Islam yang selain menyembah Allah SWT, juga memuja makam yang dianggap keramat dan meminta tolong dalam urusan gaib kepada dukun dukun dan orang orang yang dianggap sakti. Selain itu, ada juga kelompok umat Islam yang meng kultuskan dan beranggapan bahwa sultan adalah orang suci yang segala perintahnya harus ditaati.

· Adanya kelompok umat Islam, yang selama hidup di dunia ini, hanya mementingkan urusan akhirat dan meninggalkan dunia. Mereka beranggapan hahwa memiliki harta benda yang banyak, kedudukan yang tinggi dan ilmu pengetahuan tentang dunia adalah tidak perlu, karena hidup di dunia ini hanya sebentar dan sementara, sedangkan hidup di akhirat bersifat kekal dan abadi.

· Banyak umat Islam yang menganut paham fatalisme, yaitu paham yang mengharuskan berserah diri kepada nasib dan tidak perlu berikhtiar, karena hidup manusia dikuasai dan ditentukan oleh nasib.

· Dari sisi ekonomi, masyarakat Muslim Indonesia banyak yang miskin.

· Dari segi politik, masyarakat Muslim Indonesia terjajah.

· Dari segi penguasaan ilmu dan teknologi, masyarakat Muslim Indonesia terbelakang.

Penyimpangan-penyimpangan umat Islam terhadap ajaran agamanya tersebutlah yang sudah seharusnya menjadi pendorong lahirnya para tokoh pembaharu, yang berusaha menyadarkan umat Islam agar kembali kepada ajaran Islam yang benar, yang bersumber kepada Al Qur'an dan As-Sunnah (Hadis).[2]

B.  Perjuangan Kemerdekaan Umat Islam

Nasionalisme dalam pengertian politik, baru muncul setelah H. Samanhudi menyerahkan tampuk pimpinan SDI pada bulai Mei 1912 kepada HOS Tjokroaminoto yang mengubah nama dan sifat organisasi serta memperluas ruang geraknya. Sebagai organisasi politik pelapor nasionalisme indonesia,Si pada dekade pertama adalah organisasi politik besar yang mengrekrut anggotanya dari berbagai kelas dan aliran yang ada di Indonesia. Waktu itu ideologi bangsa memang belum beragam, semua bertekad ingin mencapai kemerdekaan.

Dengan demikian, terdapat tiga kekuatan politik yang mencerminkan tiga aliran ideologi "Islam", komunisme dan nasionalis"sekuler". Perpecahan antara ketiga golongan tersebut, menurut Deallar Noer, disebabkan oleh pendidikan yang mereka terima bersifat Barat. Pendidikan belanda memang diusahakan agar menimbulkan emansipasi dari agama di kalangan pelajar, sebab agamalah yang terutama menimbulkan pergolakan politik di kalangan rakyat Indonesia. Golongan sekular yang ditimbulkan oleh pendidikan itu kemudian terpecah menjadi dua, komunis dan nasionalis "sekular".[3]

C.  Organisasi Politik Dan Oranisasi Social Islam Dalam Suasana Indonesia Merdeka

Masa Revolusi dan Demokrasi Liberal Pada waktu proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, piagam jakarta sama sekali tidak digunakan. Soekarno Hatta justru membuat teks proklamasi yang lebih singkat, karena ditulis secara tergesa-gesa. Perlu diketahui, menjelang kemerdekaan, setelah jepang tidak dapat menghindari kekalahan dari tentara sekutu, BUPKI ditingkatkan menjadi panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI). Berbada dengan BUPKI yang khusus untuk pulau jawa. PPKI merupakan perwakilan daerah seluruh kepulauan Indonesia. Perubahanan itu menyebabkan banyak anggota BUPKI yang tidak muncul lagi, termasuk beberapa orang anggota panitia sembilan. Persentase Nasional Islam pun merosot tajam. Oleh golongan nasionalis”sekuler”, keputusan itu dianggap sebagai gentleman’s agrement kedua yang menghapuskan piagam Jakarta sebagai gentleman’sagrement pertama.

Sementara itu keputusan yang sama dipanang oleh golongan nasionalis sebagai menghianati gentleman’s agremant itu sendiri.

Para nasionalisme Islam mengetahui bahwa, Indonesia merdeka yang mereka perjuangkan dengan penuh pengorbanan itu,jangankan berdasarkan Islam,piagam Jakarta pun tidak. Oleh sebab itu, bisa dibayangkan bagaimana kecewanya para nasionalis Islam. Yang sedikit agak melegakan hati umat Islam keputusan Komite Nasional Indinesia Pusat (KNIP), pengganti PPKI, yang bersidang tanggal 25, 26, dan 27 November1945. Komite yang dipimpin oleh Sutan Syahrir, pimpinan utama Partai Sosialis Indonesia (PSI)itu antara lain , membahas usul agar dalam Indonesia merdeka ini soal-soal keagamaan digarap oleh satu kementerian tersendiri dan tidak lagi diperlakukan sebagai bagian tanggung jawab Kementerian Pendidikan. Sedikit banyak, keputusan tentang Kementerian Agama ini merupakan semacam konsesi kepada kaum Muslimin yang bersifat kompromi, kompromi antara teori sekuler dan teori Muslim. Pada tanggal 7 November 1945, Majelis Syura Muslimin Indonesia(Masyumi)lahir sebagai wadah aspirasi umat islam, 17 Desember 1945 Partai Sosialis yang mengkristalisasikan falsafah hidup Marxis berdiri, dan 29 Januari 1946, Partai Nasional Indonesia(PNI)yang mewadahi cara hidup nasionalis”sekuler”pun muncul. Partai-partai yang berdiri sesudah itu dapat dikategorikanmenjadi tigaaliranutamaideologi yangterdapatdi Indonesiadi atas. Partai-partai Islam setelah mereka selain Masyumi adalah Partai Sarekat Islam Indonesia(PSII)yang keluar dari Masyumi pada tahun 1947, Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti), dan Nahdatul Ulama(NU)yang keluar dari Masyumi tahun 1952. Usaha partai-partai islamuntuk menegakkan Islam sebagai ideologi negara di dalamkonstituante mengalami jalanbuntu. Demikian juga dengan pancasila, yang olehumat islam waktu itu, dipandang sebagai milik kaum “anti Muslim”, setidak- tidaknya di dalam konstituante memang, kesempatan untuk menyelesaikan konstituante masih terluang,namun pekerjaannya diakhiri dengan Dekrit Presiden 1959,konstituante dinyatakan bubar dan UUD 1945 dinyatakan berlaku kembali. Dalam konsideran Dekrit itu disebutkan bahwa piagam Jakarta menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan UUD 1945. Jelas, Dekrit sebenarnya ingin mengambil jalan tenggah. Tapi, tapi Dekrit itu sendiri yang menandai bermulanya suatu era baru, Demokrasi terpimpin, yang membawa kehidupan Demokratis terancam dan berada dalam krisis. Masyumi yang sangat ketat berpegang pada konstitusi, pada bulan Agustus 1960 diperintahkan Presiden sukarno bubar.

Dengan bubarnya Masyumi, partai islam tinggal NU,PSII, dan Perti. Partai- partai ini, sebagaimana juga Partai-partai lain, mulai menyusuiakan diri dengan keinginan Soekarno yang tampaknya mendapat dukungan dari dua pihak yang bermusuhan, ABRI Dan PKI. partai - partai islam itu melakukan penyesuiaan-penyesuaian terhadap kebijaksanaan Soekarno, tetapi secara keseluruhan, peranan partai-partai Islam mengalami kemerosotan. Tak ada jabatan Menteri berposisi penting yang diserahkan kepada Islam, sebagaimana yang terjadi pada masa Demokrasi Parlementer. Di masa Demokrasi terpimpinini,Soekarnokembali menyuarakanide lamanya Nasakom,suatu pemikiran yang ingin menyatukan nasionalis ”Sekular”, Islam, dan Komunis. Akan tetapi, idenya itu dilaksanakan dengan caranya sendiri. Masa Demokrasi terpimpin itu berakhir dengan gagalnya gerakan 30 September PKI tahun 1965, Umat Islam bersama ABRI dan golongan lainnya bekerjasama menumpas gerakan itu.

1.     MASA ORDE BARU

Setelah Orde lama hancur, kepemimpinnan berada di tangan Orde Baru. Tumbangnya Orde Lama yang Umat Islam ikut berperang besar di dalam menumbangkannya- memberikan harapan baru kepada Kaum Muslimin. Namun, kekecewaan baru pun muncul di masa Orde Baru ini. Umat Islam merasa, meskipun musuh bebuyutannya, komunis, telah tumbang, kenyataan berkembang tidak seperti yang di harapkan. Rehabilitasi Masyumi, Partai Islam berpenggaruh yang dibubarkan Soekarno, tidak diperkenankan. Bahkan,tokoh-tokohnya juga tidak diizinkan aktif dalam partai Muslimin Indonesia yang didirikan kemudian.

2.     KEBANGKITAN BARU ISLAM DI MASA ORDE BARU  

Meskipun umat Islam merupakan 87persen pendudukb Indonesia, ide negara Islam secara terus-menerus dan konsisten di tolak. Bahkan, partai-partai Islam, kecuali di awal pergerakan nasional, mulai dari masa penjajahan hingga masa kemerdekaan, selalu mengalami kekalahan. Malah dengan pembaharuan politik bangsa sekarang ini, partai-partai(berideologi) Islam pun lenyap. Untuk merumuskan situasi baru itu sekaligus memasyarakatkan kebijakan tersebut, beberapa kalangan yang sejak semula tidak melihat kemungkinan lain, menyelenggarakan forum-forum yang berkenaan dengan aspirasi politik Islam. Balitbang Agama Depertemen Agama, untuk tujuan yang sama, menyelennggarakan seminar dengan tema “Peranan Agama dalam Pemantapan ideologi Negara Pancasila. Kesimpulan dari kegiatan-kegiatan itu tampaknya menyatakan bahwa aspirasi keagamaan dalam kehidupan politik di Indonesia tetap akan tersalurkan. Bahkan dengan kebijaksanaan yang dimaksudkan sebagai upaya modernisasi Politik bangsa itu, Umat Islam, diuntungkan karna dapat melepaskan diri dari ikatan primodialisme,pindah dari dunianya yang sempit kedunia yang lebih luas.Banyak pemikiran Islam yang beranggapan,dengan ditariknya Islam dari level politik,perjuangankulturaldalampengertian luas menjadi sangat relevan, bahkan mungkin dianggap justru lebih efektif. Dalam pada itu, dekade 1970-an, kegiatan Islam semakin berkembang bila dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Terlihat, ada tanda-tanda kebangkitan Islam kembali dalam masa Orde Baru ini. Fenomena yang sangat bisa dilihat adalah munculnya bangunan-bangunan baruIslam; masjid-masjid, mushola- mushola, madrasah-madrasah, juga pesantren-pesantren. Disamping itu, sejak dekade 1970-an, banyak bermunculan apa yang disebut intelektual muda Muslim yang meskipun sering kontroversial, melontarkan ide-ide segar untuk masa depan umat. Kebanyakan mereka adalah intelektual muslim berpendidikan“umun”.Yang terakhir ini sangat mungkin adalah buah dari kegiatan- kegiatan organisasi-organisasi mahasiswa Islam seperti himpunan mahasiswa Islam (HMI, berdiri tahun 1947) yang cukup dominan di perguruan tinggi umum, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII, organisasi mahasiswa pada mulanya underbow NU), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah(IMM). Namun, tidak boleh dilupakan Departemen Agama yang dibentuk sebagai konsesi bagi Umat Islam juga banyak berjasa dalam membentuk dan mendorong kebangkitanislam tersebut. Empat belas Institut Agama Islam Negeri (IAIN) induk dengan sekian banyak cabangnya sangat berjasa menyiapkan guru-guru agama, pendakwah dan mubaligh dalam kuantitas besar. Bahkan, depertemen agama secara terus menerus mengembangkan dan meningkatkan mutu IAIN tersebut. Belum lagi, peranan depertemen ini dalam membina madrasah dan pesantren- pesantren yang ada diseluruh wilayah Nusantara ini. Di sampingitu,organisasi-organisasi Islam terutama Muhammadiyah dan NU, dua organisasi terbesar di tanah air, terus diperhatikan oleh setiap kekuatan politik,4[4] pada periode 1980-an terdapat phenomena meningkatnya penerbitan buku-buku agama, ceramah, seminar ilmiah serta aktifitas keagamaan dikampus perguruan tinggi, juga padatnya jamaah mesjid, semaraknya pengajian dikantor pemerintah maupun swasta hingga meriahnya Fashion show dan berbagai peragaan busana muslim dihotel-hotel berbintang.

Pengalaman di masalampau jelas mengambarkan bahwa suatu pemikiranakan berkembang secara fleksibel apabila diaberakardan mampu menjawab persoalan- persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Apa yang kita saksikan sekarang ini merupakan perkembangan wajar dari langkah-langkah yang sudah ditempuh di masa lalu. Islam pada hari ini merupakan realitas yang hidup menghadapi tantangan- tantangan dan problematika yang kompleks, namun tetap lebih memijakkan kakinya di atas akar tradisi Islam, dan kebenaran-kebenarannya telah memandu takdirnyasejakturunnyawahyuAlquran lebih dari 14 abad yang lalu. Pada jantung wahyu inilah berpijaknya doktrin keesaan Allah dan keniscayaan bagi umat manusia untuk mengikrarkan ajaran tauhid di dunia ini dalam kehidupan sehari-hari.Dalam islam modernisasi berarti upaya yang sungguh-sungguh untuk melakukanre interpetasi terhadap pemahaman, pemikiran dan pendapat tentang keislaman yang dilakukan oleh pemikiran terdahulu untuk disesuikan dengan perkembangan zaman dengan demikian yang diperbaharu adalah hasil pemikiran atau pendapat bukan mempebaharui atau mengubahapa yang terdapat dalam al- quran maupun hadis, yang diperbaharui adalah hasil pemahaman terhadap al- quran dan hadis. [4]

DAFTAR PUSTAKA

http://sutranputrapn.blogspot.com/2016/01/gerakan-modern-islam-asal-usul-dan.html?m=1

WWW.repository.unimus.ac.id

Loc d t.hlm.259

STAI AS-SHIDDIQIYAH SEJARAH PERADABAN ISLAM, 2014-2015.

http://sutranputrapn.blogspot.com/2016/01/gerakan-modern-islam-asal-usul-dan.html?m=1

 

 



[1] http://sutranputrapn.blogspot.com/2016/01/gerakan-modern-islam-asal-usul-dan.html?m=1

[2] WWW.repository.unimus.ac.id

[3] Loc d t.hlm.259

[4] STAI AS-SHIDDIQIYAH SEJARAH PERADABAN ISLAM, 2014-2015.


Comments

Popular posts from this blog

UAS ILMU MANTIQ : JURNAL 2

Sejarah Peradaban Islam 2 (UAS) : Kerajaan Islam Zaman Penjajahan Belanda

Sejarah Peradaban Islam 2 (UAS) : Wali Songo dan Islam di Indonesia